Mengenal Sukini, Perempuan Pesisir Melayu Bangsal

Kelurahan  Ampenan Tengah merupakan salah satu kelurahan dampingan program MAMPU BaKTI yang berada  di kecamatan Aqmpenan.  Dengan jumlah penduduk  9,298 jiwa yang terdiri dari perempuan 4663 jiwa dan laki – laki 4635 jiwa.  Dimana Rata – rata mata pencaharian masyarakatnya bekerja sebagai nelayan , buruh dan pedagang dan beberapa menjadi PNS. Disinilah lahir seorang  sosok perempuan yang bernama Sukini  tepatnya dilingkungan  pesisir melayu bangsal. Sukini  merupakan salah satu pengurus kelompok konstituen dari kelurahan ampenan tengah.  Lahir tanggal 20 januari  1965 , anak ke 8 dari 14 bersaudara dan ibu dari Aeman Bages(11th) ini merupakan sosok yang sangat pemberani dan memilki  jiwa sosial yang tinggi. Sejak kecil  sukini sudah terbiasa bekerja keras membantu orang tuanya yang kala itu berprofesi sebagai pedagang sayur di pasar kebun ruek ampenan.

Sejak  tahun 1985 sukini sudah aktif sebagai kader kesehatan dilingkungannya. Informasi tentang pemeriksaan kesehatan ibu hamil selalu disampaikan dengan sukarela ke masyarakat  “Saya menginformasikan secara door to door agar ibu – ibu itu tidak lupa untuk datang ke posyandu’’katanya’

Keinginannya untuk membantu orang yang mengalami kesusahan membuat sukini remaja waktu itu ingin memiliki uang banyak, sehingga pada tahun 1994 sukini mengadu nasib ke Malaysia,  yang waktu itu bekerja sebagai trainer mesin di perusahan kenwod. Pengalaman menjadi trainer membuat sukini terbang  keberbagai Negara seperti Taiwan, Thailand dan singapura  dengan penghasilan yang lumayan besar namun karena rindu kampung halaman sukini akhirnya memutuskan untuk pulang kampung.

Pengalaman pahit yang dialami sukini mendorongnya ketika baru berumah tangga kondisi ekonomi tidak menentu jangan biaya mengurus KTP untuk makan pun masih susah. Pernah sukini ingin mengurus KTPnya yang pada waktu itu masyarakat belum tahu cara mengakses layanan  administrasi kependududkan kebanyakan mengunakan jasa calo, ia tentu dengan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan kita mengurus sendiri. Disinilah sukini mulai terpangil untuk membantu masyarakat miskin untuk menguruskan administrasi kependududkan.

Sudah ratusan administrasi kependudukan (KTP) masyarakat miskin yang sudah dibantu oleh sukini. Pernah dalam kondisi sakitpun sukini  tidak pernah menolak untuk membantu warga, untungnya sukini memilki suami  yang mendukung kerja sukarela yang  dilakukan sukini.

Karena kondisi ekonomi yang tidak baik, tahun 2006 Sukini akhirnya memutuskan untuk kembali mengadu nasib ke luar negeri dengan  negara  tujuan Taiwan. Di Taiwan sukini bekerja disebuah yayasan yang menampung orang – orang jompo. Dengan pengahasilan sekitar 5 jutaan kalau di rupiahkan.  Sukini menabung dengan niat tabungannya akan digunakan untuk biaya melanjutkan pendidikan ke jenjang SI pendidikan yang menjadi impiannya karena baginya perempuan harus maju dari segi pendidikan agar bisa sejajar dengan kaum laki – laki.

Tiga tahun di negeri orang dirasa sukini sudah cukup, apalagi dibalut rasa rindu dengan keluarga di kampung halaman sudah terbayang didepan mata. Akhirnya desember 2008 sukini memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dengan disambut suka cita dari suami dan keluarganya.

Sukini mencoba mengajar di sekolah PAUD Indah di kelurahan pelembak. Walaupun sukini bukan dari latar belakang guru  tetapi dia mampu mengajar di sekolah. Memang keinginannya mengajar dan memperoleh gelar guru menjadi impian sejak kecil. Kesempatan itu kita yang ciptakan, selama kita punya keinginana untuk maju pasti ada jalannya, begitulah tekad sukini yang tidak mengenal kata terlambat kalau ingin berubah.

Sejak tergabung sebagai pengurus di kelompok konstituen Ampenan Tengah, sukini merasakan besar manfaatnya. “Dulunya kalau bicara di depan public saya agak sungkan apalagi berhadapan dengan anggota DPRD saya kurang percaya diri tapi sekarang sejak bergabung menjadi kelompok konstituen Program MAMPU saya merasakan betul hasilnya yakni saya tambah berani bicara disemua kalangan’ imbuhnya”

Pengalamannya bergabung di kelompok konstituen ampenan tengah menambah kepercayaan diri sukini untuk mencalonkan diri sebagai kepala ingkungan. Disamping itu sukini merasa terpanggil melakukan sesuatu untuk masayarakat khususnya perempuan miskin yang ada di lingkungan bangsal. Setidaknya dengan dia menjadi kepala lingkungan hak – hak perempuan dan perlindungan sosial  yang diperuntukan untuk perempuan miskin lebih diperhatikan.

Pada bulan November 2015 sukini mencalonkan diri menjadi kepala lingkungan dengan calon kandidat sebanyak 2 orang yakni sukini dan Mohammad Nur . Sukini satu – satunya perempuan yang berani mencalonkan diri sebagai kepala lingkungan karena merasa terpanggil untuk membantu masyarakat dan  atas dorongan rekan rekan perempuan lainnya yang mengharapkan sukini menjadi kepala lingkungan. Namun perolehan suara yang di dapatkan sukini sebanyak 298 suara  sedangkan Mohammad Nur 397 suara selisih 99 suara namun hal ini tidak membuat sukini berkecil hati karena dia sadar bahwa perjuangan perempuan untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah apalagi masih kentalnya  budaya patriaki yang masih tertanam di masyarakat merupakan suatu PR tersendiri bagi pejuang –pejuang perempuan yang ingin merubah pandangan masyarakat bahwa perempuanpun bisa menjadi seorang pemimpin  dilalui namun setidaknya dengan keberania yang sedikitpun dapat memberikan arti bagi kemajuan diri sendiri dan perempuan Indonesia pada umumnya.

 

 

 

Berita Terkait